Tugas Menulis Kemahiran Berbahasa Indonesia

 

KESATRIA YANG SEBENARNYA

 

Alkisah, di sebuah hutan yang damai Sang Raja Hutan yang bernama Singa Emas tampak senang melihat hamparan hutan yang luas dan para hewan yang beraktivitas seperti biasanya, keadaan hutan saat ini memang sangat damai. Namun, di balik kedamaian itu terselip rasa kebencian yang tidak pernah padam dan rasa dendam yang tidak ada akhirnya, seolah-olah membekas yang tidak bisa dihilangkan. Karena sebelumnya di hutan ini sering terjadi peperangan entah karena memperebutkan makanan, wilayah, atau kekuasaan mulai dari perang saudara hingga perang antar bangsa atau koloni. Singa Emas juga sering mengingat bagaimana perjuangan ia dan para singa lainnya dalam menyatukan dan menyelesaikan konflik yang dialami oleh seluruh bangsa dan koloni hewan di hutan ini. Selain itu Singa Emas juga turut andil dalam membangun peradaban dan kemajuan di hutan ini. Oleh karena itu, semua hewan di hutan ini tunduk dan menghormati Sang Raja Hutan yang bijaksana ini.

Di hutan ini terdapat koloni dan bangsa hewan yang beraneka ragam. Setiap koloni atau bangsa dipimpin oleh seorang raja yang dipilih oleh rakyatnya berdasarkan pengalaman dan kemampuannya. Terdapat perbedaan yang mendasar yaitu koloni biasanya hidupnya berpindah-pindah, tidak menetap di satu tempat saja, dan hewannya mulai dari jenis serangga, katak, dan berbagai jenis burung. Sedangkan bangsa biasanya hidupnya menetap, tidak berpindah-pindah, dan hewannya mulai dari jenis mamalia, reptil, dan primata. Semuanya mempunyai kemajuan dan peradabannya masing-masing. Diantara bangsa dan koloni tersebut ada bangsa yang saat ini masih dalam keadaan berperang yaitu Bangsa Kucing dan Bangsa Anjing. Kedua bangsa ini memang sering berperang jarang sekali berdamai, kalau damai pun masih hanya sebatas gencatan senjata saja selebihnya tetap berperang baik perang urat syaraf atau perang secara fisik dan strategi. Hal ini juga dipengaruhi bahwa, dalam sejarah turun-temurun dahulunya anjing dan kucing merupakan pendamping dan pengawal Raja Hutan yang paling setia. Karena memang memiliki kemampuan dan keunikannya masing-masing yang jarang dimiliki oleh hewan-hewan lainnya. Anjing dengan kemampuannya yaitu memiliki indra penciuman yang sangat tajam, sehingga bila ditemukan bau keanehan atau aroma yang bisa mengancam nyawa Sang Raja Hutan, maka anjing akan langsung mengetahui dan membereskannya. Sedangkan Kucing meskipun tidak memiliki indra penciuman yang tajam tetapi kelincahan dan kecepatannya sangat dibutuhkan oleh Sang Raja Hutan. Bila terdapat keadaan atau situasi yang genting seperti rencana pembunuhan atau sabotase, maka kucing langsung dengan cepat mengamankan Sang Raja Hutan ke tempat yang aman. Oleh sebab itulah, Raja Hutan selalu meminta salah satu hewan dari kedua bangsa ini untuk menjadi pengawalnya.

Hal inilah yang mendasari terjadinya peperangan yang berkepanjangan menyebabkan terjadinya pertumpahan darah dan memakan korban jiwa yang tidak sedikit. Di antara kedua bangsa tersebut, mereka saling beranggapan bahwa kami lah yang pantas sebagai pendamping raja dan mendapatkan kedudukan yang tinggi di antara bangsa dan koloni lainnya. Sehingga sering menimbulkan rasa iri dan dengki di antara kedua bangsa tersebut. Lalu, kisah pun akhirnya di mulai, di mana hiduplah seorang keluarga kucing yang bahagia mereka tampak senang dan tetap menjalankan aktivitasnya seperti biasa. Ada ayah, ibu dan keempat anaknya yang dimana semuanya berjenis kelamin laki-laki. Aku sebagai tokoh utama dalam cerita fiksi ini adalah anak pertama dari keluarga tersebut yang bernama Sava, lalu ada ketiga adikku yang bernama Suduva, Rukiva, dan Tuva. Mereka semua tampak akur dan saling bercanda satu sama lainnya. Ayahku merupakan seorang perwira prajurit yang di segani, setiap kali ada misi yang diberikan oleh Raja Kucing, ayah selalu menjalankannya dengan sangat baik, ia selalu berhasil dalam menjalankan misinya tersebut. Hal itu juga yang membuatku kagum dan ingin menjadi seorang prajurit yang kuat seperti ayah. Lalu, ada ibuku yang merupakan perempuan pekerja keras, tangguh, dan kuat, ibuku juga selalu mengawasi dan memperhatikan kami apapun aktivitas yang kami lakukan. Terlepas dari kesibukannya masing-masing ayah dan ibuku merupakan orang tua yang penyayang.

Kami tinggal di sebuah desa di pedalaman hutan yang dipimpin oleh Raja Kucing yang bernama Eldia, wilayah kekuasaan dari Bangsa Kucing ini sangat luas meliputi beberapa desa, yang semuanya dihuni oleh kucing yang beraneka ragam mulai dari warna bulu hingga keunikannya. Desa kami dihuni oleh ras kucing dengan warna bulu oranye. Kami beruntung terlahir dengan warna bulu ini karena, kucing dengan warna bulu oranye ini memang terbilang istimewa yang dimana memiliki kemampuan bertarung yang sangat baik dan juga sering dipilih untuk menjadi pengawal dari Raja Hutan. Desa kami terbilang cukup rawan dengan adanya konflik karena posisinya yang dekat dengan perbatasan bangsa lain yaitu bangsa anjing dan bangsa ular. Lalu, ditambah adanya benda pusaka yaitu pedang matahari yang tersimpan dan tertimbun di dalam tanah yang ada di desa kami. Letak persisnya memang kurang tahu, tapi yang jelas pedang itu tersimpan di dalam tanah desa kami. Pedang tersebut diberikan oleh leluhur Raja Hutan yang pertama pada saat terjadinya perang besar pada waktu itu dengan tujuan pedang tersebut harus disimpan dengan aman sebagai jimat karena pedang tersebut memiliki kekuatan seperti layaknya matahari yang bersinar terang dan siapapun tidak boleh menggunakannya karena kekuatannya tersebut. Hal itu juga yang mendasari banyaknya bangsa dan ras kucing lain yang ingin mendapatkan kekuatan dari pedang matahari tersebut. Oleh karena itu leluhur Raja Hutan yang pertama meminta untuk menyembunyikan pedang tersebut agar tidak jatuh ke tangan hewan yang salah. Melalui cerita yang berkembang tersebut, aku semakin penasaran dan ingin menemukan pedang tersebut. Lalu, aku dan kelima temanku melakukan pencarian di sekitar desa kami. Hampir sebulan kami mencari tidak ada satu pun hasil yang kita dapat pedang tersebut memang benar-benar tersembunyi. Akhirnya pencarian kami dihentikan sementara karena cuaca yang tidak menentu dan kami juga sudah harus masuk ke akademi. Setelah kami menginjak umur satu tahun kami di wajibkan untuk masuk ke akademi. Di akademi kami tidak hanya belajar pengetahuan umum saja melainkan pengetahuan tentang dunia militer, bagaimana cara menjadi prajurit yang tangguh, cara menggunakan cakar yang kuat dan bagaimana menggunakan pedang yang benar. Di hutan ini memang senjata yang sering digunakan untuk berperang adalah pedang sehingga semua bangsa pasti diajarkan untuk menggunakan pedang yang benar.

Setelah menginjak umur 2 tahun aku lulus dari akademi dan tiba lah adik-adikku yang sekarang ini menimba ilmu di akademi. Setelah ayahku pensiun menjadi prajurit, aku sekarang bekerja membantu ayahku dalam mengumpulkan makanan dan kayu bakar. Aku menghabiskan waktu ku untuk membantu keluarga dan juga desa semuanya memang tampak baik-baik saja. Sampai suatu malam entah apa yang terjadi pada malam itu semuanya menjadi malam yang merah berdarah malam yang tidak pernah aku lupakan seumur hidupku. Waktu itu ayah dan kedua adikku Suduva dan Rukiva sedang sakit ayah tidak bisa membantu dalam mengumpulkan kayu bakar, sedangkan adikku yang terakhir bernama Tuva sedang pergi belajar ke akademi. Lalu, ayah menyuruhku untuk mengambil kayu bakar di sebelah desa sendirian. Setelah cukup lama di hutan, kayu yang aku kumpulkan pun cukup banyak, lalu aku bergegas pulang karena waktu sudah menjelang malam. Aku melihat dari jauh keadaan desa benar-benar sepi tidak ada penerangan sama sekali, setelah berjalan lebih dekat aku mencium bau darah dan mayat kucing dimana-mana aku berpikir bahwa desa telah di serang aku bergegas menuju ke rumah berharap semuanya baik-baik saja. Tetapi dugaanku salah aku melihat ayah dan ibuku tergeletak tak bernyawa dengan penuh darah dan belatung dimana-mana, aku masuk ke dalam rumah dan melihat ke dalam kamar yang dimana kedua adikku juga dibunuh secara mengenaskan di situ. Lalu, aku mendengar suara jeritan dari belakang rumah berharap adikku yang terakhir masih hidup dan ternyata benar adikku sedang di cekik lehernya oleh tikus hitam besar. Dengan segera aku mengambil pedang yang ada di belakang punggungku dan langsung kupotong tangan yang mencekik leher adikku. Lalu, tikus itu pun marah dan berusaha menyerang aku dan adikku yang sedang kesakitan, aku berusaha melindungi adikku dengan sekuat tenaga tetapi perlawanan yang ditimbulkan oleh tikus itu sangat kuat beberapa kali aku terkena serangannya sehingga aku berusaha untuk menghindarinya. Beruntung ilmu yang kudapatkan selama belajar di akademi ku gunakan dengan sebaik-baiknya dan akhirnya aku berhasil memenggal kepala dari tikus hitam itu sehingga membuat dia mati dan jatuh kehabisan darah. Setelah pertarungan selesai aku langsung memeluk adikku dan menenangkannya, tak lama kemudian tubuhku tiba-tiba lemas dan terdapat belatung yang menjijikkan, ini mungkin efek dari serangan yang ditimbulkan oleh tikus tersebut yang dimana tikus tersebut membawa pasukan belatung yang sangat banyak di tubuhnya sehingga ketika serangan dari tikus tersebut datang para belatung tersebut juga ikut menyerang secara diam-diam. Hal tersebut tidak ku ketahui sebelumnya, yang membuatku lemas tak berdaya, tak lama kemudian para kucing lain datang dan menolong aku dan adikku.

Kami dan para korban yang selamat dari insiden ini di bawa ke tempat pengobatan. Aku sempat memikirkan apa yang sebenarnya terjadi, tetapi karena efek racun yang terus menyebar aku jatuh tak sadarkan diri. Raja Eldia pun sangat terkejut akan insiden ini karena pada waktu kejadian itu Raja Eldia sedang menjenguk Sang Raja Hutan yang tengah sakit. Selama ia menjabat belum pernah mendapatkan kasus yang sangat mengerikan ini, hampir semua tempat dan rumah penduduk di desa kucing oranye semuanya di hancurkan termasuk para kucing di desa tersebut semuanya di bantai dengan cara yang mengenaskan. Raja Eldia sempat memeriksa lonceng dan pos menara di desa kucing oranye ternyata kucing yang menjaga di sana juga telah di bunuh. Lalu, Raja Eldia menyuruh beberapa kucing untuk menyelidiki insiden ini. Memang di setiap desa di Bangsa Kucing selalu ada pos menara pengawas dan sebuah lonceng, supaya mengawasi dan memberitahu kucing lainnya dengan membunyikan lonceng bila terdapat bahaya atau ancaman yang akan datang. Setelah itu, Raja Eldia melakukan pertemuan darurat sembari berusaha menenangkan para kucing lainnya yang gelisah, tak lama berselang pasukan penyelidikan datang dan memberitahu hasilnya bahwa ditemukan satu mayat tikus, beberapa belatung dan bulu kucing hitam di desa kucing oranye. Mendengar hal itu Raja Eldia langsung menuju desa kucing hitam, sesampainya di sana desa itu tampak kosong dan sepi tidak ada aktivitas sama sekali setelah mencari kucing hitam cukup lama, akhirnya ada seekor kucing hitam yang keluar dari persembunyiannya lalu Raja Eldia dan pasukannya mengejar kucing itu dan mengepungnya. Setelah kucing itu tidak bisa berbuat apa-apa lalu Raja Eldia mengintrogasinya, Raja Eldia sangat terkejut bahwa yang menyerang desa kucing oranye adalah bangsa tikus dan kucing hitam yang sekarang menjadi pengkhianat bangsa, mereka sedang mencari pedang matahari yang terkenal itu dan ingin menggunakannya untuk menguasai seluruh hutan ini. Mendengar penjelasan tersebut Raja Eldia langsung menebas kepala dari kucing hitam itu, dan memerintahkan pasukannya segera melakukan pencarian ke seluruh desa untuk mencari apakah masih ada kucing hitam yang masih bersembunyi. Sementara itu, Raja Eldia kembali ke istana untuk membuat surat yang akan dikirimkan ke Raja Tikus atas maksud dari penyerangan ini.

Setelah koma cukup lama akhirnya aku kembali sadar dengan tubuh yang di penuhi perban, aku melihat adikku yang masih terbaring koma. Ternyata pada waktu koma kami sudah di rawat oleh kakek dan nenek kami. Racun yang ada di tubuh aku dan adikku ternyata sudah hilang beserta dengan para belatungnya itu karena kakek dan nenek kami memberikan obat yang dicampur dengan serbuk bunga wisteria. Bunga tersebut memang menjadi penawar dari segala racun, kakek dan nenek kami mendapatkan bunga itu dari serangga kupu-kupu putih yang merupakan sahabatnya. Aku masih mengingat wajah dari tikus itu, ia memang tidak terlalu asing bagiku karena di hutan aku sering bertemu koloni tikus yang sering berpindah-pindah. Tetapi tikus yang kuhadapi pada waktu itu memiliki tubuh yang kuat dan memiliki paras yang sangat kejam beserta kemampuannya yang aneh dan mengerikan. Lalu, perlahan-lahan timbul di dalam diriku rasa dendam dan kebencian yang mendalam, aku ingin menjadi kuat supaya bisa menghancurkan dan membantai tikus-tikus yang menjijikkan itu seperti mereka yang telah membantai seluruh keluargaku. Dengan tubuhku yang baru saja pulih aku mulai berlatih dengan keras sembari menunggu pengumuman seleksi calon prajurit bangsa, karena tiap tahun bangsa kami selalu merekrut kucing baru untuk dijadikan prajurit yang berguna dan bersedia melindungi dan membela bangsa. Setelah aku lolos seleksi aku mulai berlatih keras di sana membawa perasaan yang begitu berat, berbulan-bulan aku berlatih akhirnya adikku kembali sadar dari koma, setelah cukup pulih adikku ingin menjadi prajurit seperti aku dan ingin membalas perlakuan tikus pada waktu itu, tetapi aku melarangnya karena akan menjadi beban di medan pertempuran nanti, aku mengatakan hal itu tetapi jauh di dalam hatiku aku ingin melindunginya aku tidak mau satu cahaya yang ku miliki padam begitu saja aku ingin menjaga adikku dengan dalih ia tetap bersama kakek dan neneknya dan tidak mengikutiku menjadi prajurit, biarlah aku saja yang memikul beban berat ini karena tekad dan niatku sudah bulat yaitu ingin menghancurkan kebencian ini dan menggantinya dengan perdamaian yang abadi. Di lain tempat, surat balasan dari Raja Tikus yang bernama Raja Nemesis datang dan menyampaikannya ke Raja Eldia yang dimana isi dari pesan tersebut mengatakan bahwa Bangsa Tikus menuju peradaban yang sangat pesat mereka telah mengusai hampir separuh wilayah hutan ini dengan menduduki beberapa koloni dan bangsa yang besar salah satunya bangsa ular yang dengan mudah mereka taklukan. Kami mempunyai tujuan untuk menaklukan semua bangsa dan koloni di hutan ini dan menjadi raja hutan yang disegani, kami akan menciptakan hutan yang baru dengan semua hewan yang tunduk dan patuh pada kekuasaan kami. Melihat isi dari pesan tersebut Raja Eldia pun tersentak hatinya dan langsung memerintahkan prajuritnya untuk bersiap-siap karena Bangsa Kucing telah menyatakan perang kepada Bangsa Tikus untuk melawan penindasan dan kekejaman yang dilakukannya. Raja Eldia juga mempunyai keinginan bahwa inilah momentum yang tepat untuk saatnya seluruh hewan baik koloni ataupun bangsa di hutan ini bersatu dengan tekad yang kuat dalam melawan kekejaman yang diperbuat oleh Bangsa Tikus ini.

Komentar