Tugas UAS Kajian Drama Panembahan Reso
PANEMBAHAN RESO
W. S. RENDRA
1. Kekuasan (Power)
Kekuasaan bersifat sangat terbatas sehingga membutuhkan berbagai macam cara untuk mendapatkannya. Hal tersebut sesuai dengan kutipan di Adegan ke Delapan di bawah ini:
Reso: “Aku akan lebih becus menjadi raja. Sayang, aku cuma seorang panji! --- Tetapi, aku punya akal. Kekacauan di negara ini justru akan memberi jalan kepadaku. Rintanganku yang utama hanyalah para pangeran. --- Nanti, aku cari jalan!”.
“Zaman sudah menjadi edan! Jangan berharap orang edan bisa di insyafkan. Biarlah mereka sekalian didorong untuk semakin edan. Sehingga, akhirnya, mereka nanti gampang aku mainkan”.
Dari kutipan di atas menggambarkan bahwa tokoh Reso menginginkan kekuasan untuk menjadi raja sesuai dengan mimpi dan cita-citanya supaya bisa memperbaiki keadaan rakyat dan kerajaan yang semakin menderita dan menganggap bahwa semua pangeran tidak pantas dan tidak memiliki kemampuan untuk menjadi seorang raja hanya Reso yang pantas menjadi raja.
Kekuasaan berbeda dengan wewenang, karena kekuasaan merupakan kemampuan untuk memengaruhi orang lain sehingga orang tersebut mau melakukan keinginannya. Hal tersebut sesuai dengan kutipan dialog di Adegan ke Delapan Belas di bawah ini:
Ratu Dara: “Inilah yang sudah lama saya tunggu. Rencana yang jelas dan berani seperti itu”.
Reso: “Bila kepala mereka telah terpenggal, tinggal kita menghadapi Pangeran Bindi, Pangeran Kembar, dan para senapati”.
Ratu Dara: “Panji, Anda membawa gairah dan harapan saya”.
Reso: “Gairah dan harapan Anda akan saya jaga sebagai mustika yang berharga. --- Sebagai prajurit kerajaan saya bersedia diuji dan dicoba”.
Dari kutipan di atas memperlihatkan bahwa dengan ketekunan dan kerja keras dari seorang Panji Reso membuat Ratu Dara kagum dan merasa tertarik kepada Panji Reso serta bisa membuat Ratu Dara percaya bahwa harapan untuk anaknya menjadi raja akan bisa terwujud berkat rencana dan strategi yang berani dari seorang Panji Reso.
Kekuasaan berfungsi menjadi alat bantu untuk mencapai keinginan atau tujuan tertentu. Kekuasaan dapat diperoleh dengan berbagai cara yaitu berbentuk paksaan (koersif) dan tanpa paksaan (consensus). Hal tersebut sesuai dengan kutipan dialog di Adegan ke Empat Puluh Empat salah satunya kekuasaan dengan tanpa paksaan di bawah ini:
Bolo: “Tepat! Tepat! Marilah kita rajakan orang yang telah terbukti sanggup memimpin, telah terbukti diakui pengaruh kewibawaan pribadinya, telah terbukti punya wawasan kenegaraan, telah terbukti ahli mengatur siasat perang, dan juga telah terbukti ikhlas melakukan pengorbanan pribadi demi negara, serta sampai sekarang kehidupan pribadinya bersih dari pencemaran noda. Marilah kita rajakan Panembahan Reso!”.
Simo: “Setuju!”
Semua: “Setuju! Setuju!”
Aryo Lembu membimbing Panembahan Reso, di dudukkan di atas takhta. Lalu, ia pun dirajakan oleh orang.
Dari kutipan di atas memperlihatkan bahwa dengan keadaan takhta yang masih kosong semua Aryo setuju dan mengakui kehebatan dan kecerdikan dari Panembahan Reso, dan menganggap Panembahan reso memiliki banyak pengalaman serta lebih layak untuk menjadi raja berikutnya, sehingga untuk mengatasi pemberontakan yang sedang terjadi di kerajaan maka, semua Aryo bersedia dan tunduk patuh kepada Panembahan Reso.
Menurut Foucault (2002: 27-30) dalam tulisannya yang berjudul “Society must Be Defended” terdapat beberapa langkah untuk melakukan pendekatan terhadap masalah kekuasaan salah satunya dengan cara melihat kekuasaan secara eksternal, artinya lebih mengutamakan perhatian pada tempat dan lokasi kekuasaan itu memberi dampak. Hal tersebut sesuai dengan kutipan dialog di Adegan ke Dua Puluh Lima di bawah ini:
Reso: “Malam ini aku akan begadang di Bangsal Kepanjen bersama dengan para panji. Kalau selesai tugasmu, tidak usah kamu melapor kepadaku. Tetapi langsunglah kamu pergi menghadap Ratu Dara di Kaputren, di dalam istana. Laporkan semuanya kepada Sri Ratu. Lalu, kamu akan tinggal bersama Ratu Dara untuk dua atau tiga hari. Dan, pada saat yang di tentukan, dan jalan sudah disiapkan, bunuhlah Sri Baginda Raja”.
Asasin: “Membunuh raja?”
Reso: “Sekarang kamu kaget”.
Asasin: “Tidak saya duga akan mendapat kesempatan semacam ini. Ini justru tantangan yang menggiurkan. Inilah kesempatan baik bagi saya untuk mendapatkan kepuasan bekerja”.
Dari kutipan di atas menggambarkan bahwa Reso memberikan lokasi yang tepat kepada Asasin untuk menjalankan rencana membunuh Sri Baginda Raja di dalam istana agar Reso bisa mempermudah mendapatkan kekuasaan dan ambisinya untuk menjadi raja.
2. Wacana (Diskursus)
Menurut Foucault (1980: 101) semua wacana dihasilkan oleh kekuasaan tetapi wacana bukan bawahan kekuasan. Wacana dapat digunakan untuk memuluskan kekuasaan dan sekaligus untuk menentang kekuasaan. Hal tersebut sesuai dengan kutipan dialog di Adegan ke Tujuh salah satunya wacana digunakan untuk menentang kekuasaan di bawah ini:
Gada: “Apakah Panji Tumbal cukup kuat?”
Dodot: “Harus dibikin kuat”.
Gada: “Apakah kita akan membantu Panji Tumbal?”
Dodot: “Saya tidak ragu-ragu. Apakah kakanda ragu-ragu?”
Gada: “Baik. Kita akan membantu Panji Tumbal. Bagaimana cara dan siasatnya akan kita bicarakan dengan Aryo Gundu dan senapati yang lain yang sependirian dengan kita. Kita bicarakan semuanya ini di dalam rapat, di Serambi Balai Senjata yang sedang diatur oleh Aryo Gundu”.
Dodot: “Saya setuju tanpa ragu”.
Dari kutipan di atas memperlihatkan bahwa pemberontakan yang dilakukan oleh Panji Tumbal menimbulkan wacana diantara dua pangeran tersebut Pangeran Gada dan Pangeran Dodot, untuk ikut menentang kekuasaan dari Raja Tua dan memilih bergabung dengan pemberontakan Panji Tumbal.
Dalam politik wacana, kelompok-kelompok yang merasa di rugikan berusaha menentang wacana kekuasaan yang menempatkan orang di dalam larangan entitas normal untuk membebaskan permainan-permainan perbedaan. Wacana menjadi kekuasaan karena dengan melalui wacana akan terbentuk norma-norma yang logis dan yang benar. Hal tersebut sesuai dengan kutipan dialog di Adegan ke Sembilan di bawah ini:
Bondo: “Tapi, Anda punya wawasan kenegaraan, di samping juga unggul di medan perang”.
Simo: “Memang andalah yang pantas memimpin kami”.
Sekti: “Setuju”.
Reso: “Baik. Tegas saja, aku terima pimpinan ini! Sekarang dengar! Pulihkan kepercayaan raja pada Anda semua. Jangan di bantah kemauan orang pikun itu. Bila nanti Anda semua sudah kembali ke kadipaten masing-masing, galang kembali kekuatan Anda secara diam-diam. Jangan bergerak sebelum aku beri aba-aba. Aku akan mengadu siasat di istana. Panji sekti akan menjadi mata-mata dan penghubung antara kita”.
Dari kutipan di atas menggambarkan bahwa di dalam gerakan para panji, Panji Reso ditunjuk untuk menjadi pemimpin di dalam gerakan tersebut karena pengalaman dalam berperang dan mengatur siasat. Para panji yang lain setuju dengan wacana dan alasan yang logis tersebut karena dengan dipimpin oleh Panji Reso, gerakan para panji ini akan lebih mudah menggulingkan takhta Raja Tua di istana.
Foucault mengatakan bahwa ada keterkaitan antara ilmu pengetahuan dengan kekuasaan. Foucault tidak setuju pendapat yang mengatakan ilmu pengetahuan bukan untuk kepentingan kekuasaan. Menurut Foucault ilmu pengetahuan bersifat politis karena berhubungan dengan relasi-relasi kuasa. Hal tersebut sesuai dengan kutipan dialog di Adegan ke Tiga Belas di bawah ini:
Reso: “Anda selalu gampang kaget. Tetapi, begitulah kenyataannya. Aku dan Anda sudah bebas dari pengawasan dan pemeriksaan”.
Sekti: “Luar biasa. Saya kagum. Bagaimana Anda bisa meyakinkan orang semacam Sri Baginda?”
Reso: “Gampang! Untuk menginsyafkan orang sinting aku bicara juga seperti orang sinting. Semakin sinting aku bicara semakin ia percaya. --- Orang yang lemah itu selalu hanya mau bicara dengan bayangannya sendiri. Demikian juga si raja pikun. Begitu aku menjadi bayangannya, ia mau mendengar apa saja yang aku katakan. Bahkan, aku dan Anda ditugaskan untuk mengawasi Pangeran Rebo, Ratu Dara, dan para panji semua. --- Nah, sekarang jalan telah terbuka. Kita akan malang-melintang dengan siasat kita”.
Sekti: “Wah! Saya kagum. Saya kagum. Anda memang pantas memimpin!”
Dari kutipan di atas memperlihatkan bahwa dengan kecerdikan dan ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh Panji Reso, ia mampu membuat Si Raja Tua percaya kepadanya dan membebaskan ia dan Panji Sekti dari pengawasan kerajaan, dengan hasil tersebut membuat para panji akan leluasa menjalankan rencananya untuk menggulingkan takhta kekuasaan Si Raja Tua.
Komentar
Posting Komentar