Tugas UTS Kajian Drama Sambal Keluarga

 

Sambal Keluarga

(Drama Tiga Babak)

 

1.      Penamaan Sambal dari masing-masing anggota keluarga sesuai dengan teori gastronomi sastra yaitu penggambaran karakteristik dari setiap tokoh terhadap sambal yang disajikan di meja makan. Setiap anggota keluarga mempunyai kalimat antik tersendiri untuk merespons bila di meja makan tidak ada sambal. Seperti kutipan di bawah ini:

Kalau di meja makan tidak ada sambal, Ibu biasanya merespons dengan Yu Sumi sedang ngambek, sementara Bapak meresponsnya dengan penjual cabai hijau sedang menikah, lalu Ayundaku meresponsnya dengan sidang kabinet batal, kalau Aku mempunyai kalimat sendiri yaitu upacara tanpa bendera, mulai!

Dari kutipan di atas dapat disimpulkan bahwa semua anggota keluarga sangat menyukai sambal, terutama sambal yang dibuat oleh Yu Sumi entah pada saat sarapan, makan siang, dan makan malam sambal sudah menjadi menu makanan wajib yang harus dihidangkan di meja makan. Oleh karena itu, bila sambal tersebut tidak ada di meja makan, maka setiap anggota keluarga memiliki kalimat tersendiri untuk meresponsnya.

 

2.   Sambal juga bisa menandai bila ada anggota keluarga yang sedang menghadapi masalah. Seperti pada kutipan di bawah ini:

Pada saat sarapan, kami juga saling menandai siapa di antara kami yang sedang memunyai masalah. Kalau ada salah seorang di antara kami tidak antusias berebut sambal dari cobek, pasti ia sedang memunyai masalah. Pasti.

Dari kutipan di atas dapat disimpulkan bahwa dengan tidak antusiasnya dalam berebut sambal maka sudah dipastikan bahwa ada masalah yang menyelimuti diantara anggota keluarga tersebut. Jadi sudah terlihat pada saat mengambil sambal, siapa yang memunyai masalah dan siapa yang tidak memunyai masalah.

 

3.      Sambal juga bisa digunakan untuk menyampaikan pesan isyarat dan petanda yang lembut. Seperti pada kutipan di bawah ini:

Kalau ada tamu menginap di rumah kami, maka dapat dipastikan menu sambal itu bersembunyi, lenyap dari meja makan kami. Seolah kami saling melempar pesan “Sekarang sedang ada orang lain”. Hanya Yu Sumi saja yang kami percaya untuk mengetahui pesan rahasia lembut itu, karena dialah yang menguntit proses itu bertahun-tahun dan ikut menyukseskan ritual sarapan dengan baik. Dan karena itu, ia adalah bagian dari kami.

Dari kutipan di atas dapat disimpulkan bahwa hanya tidak hadirnya menu sambal di meja makan, maka dapat dipastikan ada pesan rahasia yang tidak boleh disampaikan. Hal ini terjadi kalau ada tamu yang menginap, karena boleh jadi tamu yang menginap tersebut tidak menyukai sambal. Jadi setiap anggota keluarga tersebut menghormati tamu yang menginap itu, meskipun di keluarga tersebut sambal sudah menjadi menu makanan wajib di meja makan. Hanya Yu Sumi saja yang mengetahui isi dari pesan rahasia tersebut karena Yu Sumi selalu melayani tamu yang berkunjung dan menginap.

 

4.      Sambal juga digunakan sebagai menu makanan yang selalu dirindukan ketika jauh dari keluarga. Seperti pada kutipan di bawah ini:

Saat Aku dan Ayundaku tidak tinggal serumah lagi dengan kedua orang tua kami memakan sambal dengan lahap ketika berkumpul bersama keluarga menjadi semacam registrasi ulang untuk mengukuhkan sesuatu yang kami anggap penting. Sarapan pagi adalah ritual validasi atas diri kami berdua, aku dan ayundaku. Suatu kali, ketika hampir dua tahun ayundaku tugas belajar ke luar negeri, begitu pulang ke Indonesia ia langsung mengajakku pulang ke rumah.

Paginya, dalam suasana makan pagi yang hangat, ayundaku menyantap sambal keluarga itu dengan cara yang tidak pernah ia lakukan. Kupikir, ia bukan sekadar rindu pada sambal dan suasana di keluarga kami, tapi juga dalam rangka menunjukkan sesuatu yang penting untuk disampaikan.

Dari kutipan di atas dapat disimpulkan bahwa rindu berkumpul bersama keluarga sama halnya dengan rindu memakan sambal. Sambal tidak hanya sebagai menu makanan wajib melainkan sebagai makanan pelepas rindu dikala jauh dari keluarga dan juga untuk membawa kabar yang ingin disampaikan.

 

5.      Sambal juga digunakan sebagai makanan yang bisa mempererat persaudaraan. Seperti pada kutipan di bawah ini:

Dua tahun yang lalu, akhirnya, satu orang lagi menjadi bagian dari keluarga kami. Mas Rudi, yang sekarang menjadi suami ayundaku, lolos dari pedas sambal maut. Ketika pagi itu, ayundaku melihat sambal keluarga terhidang di atas cobek saat makan bersama, ia tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Ia langsung memekik dan mencium ibu-bapakku, dan merangkul Mas Rudi.

Tentu saja Mas Rudi yang tidak tahu apa-apa hanya bengong. Kini, mereka berdua telah dikarunia seorang putri yang lucu, dan sekalipun keponakanku itu memunyai nama panjang yang bagus, toh ayundaku memanggil anaknya dengan panggilan sayang: Mbal….

Dari kutipan di atas dapat disimpulkan bahwa dengan adanya sambal rasa persaudaraan akan sangat erat meskipun ada seseorang yang baru bergabung menjadi bagian dari keluarga, karena dengan selera makan yang antusias ditambah rasa pedas dari sambal keluarga, membuat suasana rumah menjadi hangat dan sangat akrab dengan kasih sayang orang tua tercinta.

 

6.      Sambal juga bisa membuat suasana menjadi tegang dan bisa menimbulkan rasa saling menghormati dalam menambahkan cita rasa pada sambal. Seperti pada kutipan di bawah ini:

Jantungku berdetak mengencang dan mengeras. Kusapu berkali-kali dan kuperiksa dengan seluruh perhatianku, tetap saja aku tidak menemukan satu menu yang paling kutunggu-tunggu. Tubuhku terasa ringan. Tapi aku berusaha tetap tenang, dan duduk di kursiku. Yu Sumi masih melakukan sesuatu di dapur, mungkin masih di sana…. Semoga….

Rasa tidak menentu juga kulihat di raut muka ayundaku. Mas Rudi, orang yang akhirnya tahu tentang drama sarapan ini, setelah mengambil makanannya, keluar dari ruang pentas. Ia memberi alasan akan menyuapi putrinya di beranda. Tapi aku memaklumi, ia sedang tidak ingin mencampuri satu peristiwa yang mungkin tidak mengenakkan hatinya.

Sarapan dimulai. Tanganku gemetar, aku tidak sanggup mengeluarkan sepatah kata pun. Berkali-kali, aku melihat ayundaku juga berusaha menghilangkan ketegangan dengan cara menarik napas dalam-dalam. Sementara ibu dan bapakku terlihat seperti biasa, tenang dan ramah. Dan Dian…, ia juga tenang.

Ibuku tersenyum. Bapakku tersenyum. Ayundaku bahkan langsung berteriak girang. Sementara aku menahan diri untuk tidak berteriak, tapi mengulum senyum lega. Dian juga tersenyum, aku tidak tahu apa maksud senyumnya.

 

Ibu                   : Mbak Dian, sambal… ini sambal keluarga kami.

Ayunda            : Iya, Dian. Sambal ini enak sekali.

Ayundaku menimpali sambil tangannya mengeruk sambal dengan sendok dan menjatuhkan sambal itu di piringnya.

Aku yang begitu girang, masih berusaha menahan semuanya. Dadaku dipenuhi rasa syukur.

Dian: Iya, Bu… saya juga suka sambal ini. Saya sering membuatkan sambal ini untuk eyang kakung saya.

Sambil berkata seperti itu, Dian mengambil sesendok sambal.

Aku benar-benar lega. Semua terasa lapang dan ringan.

Napasku seperti berhenti. Aku melihat satu adegan ringan tapi tajam. Tangan Dian mengambil sebotol kecap, dengan pelan ia menuangkan kecap itu di atas sambal yang sudah berada di piring makannya. Dengan tenang ia berkata.

 

Dian: Tapi saya paling suka kalau ditambah kecap.

 

Aku diam. Ayundaku diam. Ibuku diam. Bapakku diam. Semua diam. Ibuku tersenyum. Bapakku tersenyum. Mereka berdua kembali mengeluarkan kalimat-kalimat ringan untuk mencairkan suasana.

Dian tetap makan dengan tenang, sambil sesekali menimpali pembicaraan.

Dian.

Sambal muncul dengan dramatis.      

Gembira.

Dari kutipan di atas dapat disimpulkan bahwa pada saat acara kumpul bersama keluarga tidak lengkap rasanya kalau tidak ada sambal di meja makan dan tentunya untuk mengenalkan tradisi bahwa dengan adanya sambal akan membuat suasana keluarga menjadi hangat dan akrab. Selain itu, ada beberapa orang yang memvariasikan sambalnya sesuka hatinya, karena yang terpenting kerukunan dan keakrabanlah yang akan tetap terhubung dan terjalin selamanya.

Komentar